Skip to content

Pioderma

Mei 14, 2010

Penyakit kulit yang disebabkan oleh kuman pembentuk pus gram (+) (Staphylococcus, Streptococcus atau keduanya). Selain itu bisa disebabkan kuman gram (-) (P. aeruginosa, proteus vulgaris, proteus mirabilis, E. coli dan klebsiella)

Etiologi

  1. Staphylococcus aureus
  2. Streptococcus β hemolitycus

Faktor predisposisi

  1. Higiene yang kurang
  2. Menurunnya daya tubuh (kurang gizi, anemia, penyakit kronik, neoplasma, diabetes melitus)
  3. Telah ada penyakit lain dikulit (karena terjadi kerusakan epidermis, fungsi kulit sebagai pelindung terganggu dan memudahkan infeksi)

Klasifikasi

  1. Pioderma Primer. Infeksi pada kulit normal, gambaran klinis tertentu, disebabkan 1 macam organisme.
  2. Pioderma Sekunder. Infeksi pada kulit yang telah ada penyakit kulit lain, gambaran klinis tidak khas, mengikuti penyakit yg telah ada, misal (dermatitis impetigenisata, skabies impetigenisata). Tanda impetigenisata: pus, pustul, bula purulen, krusta kuning kehijauan, pembesaran kelenjar getah bening regional, leukositosis, (bisa disertai) demam.

Penatalaksanaan

Pengobatan sistemik

  1. Penisilin G Prokain dan semisintetiknya:
    1. Penisilin G prokain i.m. 1,2 juta/hari,  tidak dipakai lagi, sering syok anafilaktik
    2. Ampisilin 4×500 mg, 1 jam sebelum makan
    3. Amoksisilin 4×500 mg, lebih praktis karena bisa diberikan setelah makan, cepat diabsorbsi sehinggga konsentrasi dalam plasma lebih tinggi.
    4. Penisilin resisten-penisilinase: oksasilin, dikloksasilin, flukoksasilin. Kloksasilin 3×250 mg/hari sebelum makan. Berkhasiat bagi Staphylococcus aureus yang telah membentuk penisilinase.
    5. Linkomisin dan klindamisin
      1. Linkomisin 3×500 mg/hari
      2. Klindamisin 4×150 mg/hari/os, infeksi berat 4×300-450 mg/hari (lebih banyak dipakai di banding lindamisin)
      3. Eritromisin. Eritromisin 4×500 mg/hari/os (kurang sensitive dibanding linkomisin/klindamisin dan obat golongan penisilin resisten-penisilinase) dan sering member rasa tidak enak di lambung.
      4. Sefalosporin. Sefadroksil  2×500 mg/hari atau 2×1000 mg/hari.

Pengobatan Topikal. Yang tidak digunakan secara sistemik untuk menghindari resistensi obat. Misal: basitrasin , neomisin, mupirosin.

Pemeriksaan Pembantu

Pemeriksaan laboratorium ditemukan leukositosis. Pada kasus kronis dan sukar sembuh dilakukan kultur dan tes resistensi (dimungkinkan bukan akibat Staphylococcus, Streptococcus melainkan kuman gram (-)). Hasil tes resistensi hanya bersifat menyokong, in vivo tidak selalu sesuai dengan in vitro.

Resensi

Djuanda A, dkk. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Kelima (cetakan Kelima, 2010). Jakarta : Balai Penerbit FKUI

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: