Skip to content

Herpes Zoster

Mei 12, 2010

Penyakit Kulit karena virus terdiri atas:

  1. Varisela
  2. Herpes Zoster
  3. Herpes Simpleks
  4. Variola
  5. Veruka
  6. Kondiloma Akuminatum
  7. Moluskum Kontagiosum

Herpes Zoster

Disebabkan infeksi virus varisela zoster (VZV) yang menyebabkan infeksi primer akut pada kulit dan mukosa, lesi vesikel berkelompok sepanjang persarafan sensorik kulit sesuai dermatom. Hal ini merupakan reaktivasi (shingles) virus setelah infeksi primer.

Patogenesis

Virus berdiam di ganglion radiks posterior susunan saraf tepi dan dan ganglion kranialis, pada 20 % dari orang yang terinfeksi sebelumnya, virus bergerak menuruni akson untuk menimbulkan lesi reaktivasi pada dermatom tersebut (shingles). Kelainan kulit yang timbul memberi lokasi setingkat dengan daerah persarafan ganglion tersebut. Kadang virus menyerang ganglion anterior, bagian motorik kranialis sehingga memberi gangguan motorik.

Gejala Klinis

Sebelum timbul gejala kulit, terdapat gejala prodromal baik sistemik (demam, pusing, malaise), maupun lokal (nyeri otot-tulang, gatal, pegal, dll), terdapat juga neuralgia. Kemudian timbul eritem, (dalam waktu singkat) menjadi vesikel berkelompok dengan dasar kulit eritem dan edema. Vesikel berisi darah (herpes zoster hemoragik). Dapat pula timbul infeksi sekunder sehingga menimbulkan ulkus dengan penyembuhan berupa sikatrik.

Masa tunas 7-12 hari, masa aktif penyakit (lesi yang timbul) selama ±1 minggu. Masa resolusi ±1-2 minggu. Daerah torakal sering terkena, walaupun daerah lain tidak jarang. Selain kulit, terdapat pembesaran kelenjar getah bening regional. Lokalisasi penyakit unilateral dan bersifat dermatomal. Pada susunan saraf tepi, jarang timbul kelainan motorik tapi susunan saraf pusat bisa terjadi infeksi.

Gambaran Histopatologi

Vesikel unilokular, biasanya pada stratum granulosum, kadang subepidermal. Yang penting temuan “sel balon” (sel stratum spinosum yang mengalami degenerasi dan membesar), juga badan inklusi “lipschutz” (tersebar dalam inti sel epidermis, dalam jaringan ikat dan endotel pembuluh darah). Dermis: dilatasi pembuluh darah dan sebukan limfosit.

Hiperestesi, pada daerah yang terkena memberi gejala khas. Kelainan pada muka akibat gangguan n. trigeminus (dengan ganglion gasseri) atau n. fasialis dan otikus (dari ganglion genikulatum)

Herpes Zoster Oftalmikus disebabkan infeksi cabang pertama n. trigeminus, sehingga menimbulkan kelainan pada mata berupa fotofobia, banyak keluar air mata, kelopak mata bengkak dan sukar dibuka. Selain itu pada cabang kedua dan ketiga menyebabkan kelainan kulit pada daerah persarafannya.

Herpes Zoster Frontalis terdapat pada wajah yang dipersarafi n. trigeminus cabang atas

Sindrom Ramsay Hunt diakibatkan oleh gangguan n. fasialis dan otikus, sehingga memberi gejala paralisis otot muka (paralisis bell), kelainan kulit yang sesuai dengan tingkat persarafan, tinnitus, vertigo, gangguan pendengaran, nistagmus dan nausea, juga gangguan pengecapan.

Herpes Zoster Torakalis bila menyerang saraf interkostal.

Herpes Zoster Abdominalis/Lumbalis bila menyerang daerah lumbal.

Herpes Zoster Abortif, penyakit ini berlangsung dalam waktu singkat dan kelainan kulitnya hanya berupa beberapa vesikel dan eritem

Herpes Zoster Generalisata kelainan kulitnya unilateral dan segmental ditambah kelainan kulit yang menyebar secara generalisata berupa vesikel yang soliter dan ada umbilikasi, biasanya pada orang tua atau orang dengan fisik lemah, misal penderita limfoma malignum.

Neuralgia Pasca Herpetik adalah rasa nyeri yang timbul pada daerah bekas penyembuhan lebih dari sebulan setelah penyakit sembuh, dapat hilang spontan bahkan dapat berlangsung beberapa bulan bahkan bertahun-tahun dengan gradasi nyeri bervariasi. Kejadian cenderung pada orang berusia >40 tahun dengan herpes zoster. Berhubungan dengan peningkatan kejadian risiko bunuh diri

Pembantu Diagnosis

Dengan pemeriksaan Tzanck ditemukan sel datia berinti banyak.

Diagnosis Banding

  1. Herpes simpleks
  2. Varisela: lesi bersifat sentrifugal, selalu disertai demam
  3. Pada nyeri (gejala prodromal), sering dianggap penyakit reumatik, angina pectoris (jika nyeri setinggi jantung)

Komplikasi

Pada penderita tanpa defisiensi imun biasanya tanpa komplikasi, dan sebaliknya. Vesikel sering menjadi ulkus dengan jaringan nekrotik.

Komplikasi pada Herpes zoster oftalmikus, diantaranya ptosis paralitik, keratitis, skleritis, uveitis, korioretinitis, dan neuritis optik

Neuralgia Pasca Herpetik cenderung pada orang berusia >40 tahun dengan herpes zoster, risiko bertambah pada penderita usia makin tua.

Paralitis motorik terdapat pada 1-5% kasus, terjadi akibat penjalaran virus secara per kontinuitatum dari ganglion sensorik ke sistem saraf yang berdekatan. Biasanya muncul dalam 2 minggu sejak awitan munculnya lesi. Biasanya di muka, diafragma, batang tubuh, ekstremitas, vesika urinaria, dan anus. Umumnya sembuh spontan. Infeksi juga menjalar ke dalam misal paru, hepar, dan otak.

Pengobatan

Terapi sistemik bersifat simtomatik. Nyeri diberikan analgetik. Jika terdapat infeksi sekunder diberi antibiotik.

indikasi obat antiviral (asiklovir, valasiklovir) ialah herpes zoster oftalmikus dan pasien dengan defisiensi imun. Obat terbaru famsiklovir dan pensiklovir 3×250 mg/hari selama tiga hari pertama sejak lesi muncul.

Dosis asiklovir 5×800 mg/hari selama 7 hari, valasiklovir 3×1000 mg/hari. Jika lesi masih ada, bisa diteruskan dan dihentikan sesudah 2 hari sejak lesi baru tidak timbul lagi.

Untuk neuralgia pasca herpetik dapat dicoba akupungtur.

Menurut FDA, obat nyeri neuropatik pada neuropati perifer diabetic dan neuralgia pasca herpetik ialah pregabalin, dosis awal 2×75 mg/hari, setelah 3-7 hari bila respon kurang dapat dinaikkan 2×150 mg/hari. Dosis maksimum 600 mg/hari. Efek samping dizziness dan somnolen yang menghilang sendiri. Obat lain, anti depresi tetrasiklik (nortriptilin, amitriptilin), menghilangkan nyeri 44-67% kasus. Efek samping gangguan jantung, sedasi dan hipotensi.

Dosis awal amitriptilin 75 mg/hari, ditinggikan sampai awal terapeutik, antara 150-300 mg/hari. Dosis nortriptilin ialah 50-150 mg/hari.

Indikasi kortikosteroid untuk Sindrom Ramsay Hunt harus dilakukan sedini mungkin (menghindari paralisis). Prednison 3×20 mg/hari, setelah seminggu dosis diturunkan bertahap. Dosis tinggi tersebut bisa menekan imun sehingga lebih baik dibarengi antiviral untuk mencegah fibrosis ganglion.

Pemakaian topikal tergantung stadiumnya. Stadium vesikel diberi bedak (mencegah pecahnya vesikel agar tidak terjadi infeksi sekunder). Bila erosive beri kompres terbuka. Kalau terjadi ulserasi dapat diberi salap antibiotik.

Prognosis

Umumnya baik, pada herpes zoster oftalmikus. Prognosis  bergantung pada tindakan perawatan dini

Artikel Terkait Diatas

Beberapa Aspek Khusus Fungsi Somato-Sensorik (kategori Sistem Saraf)

Referensi

Djuanda A, dkk. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Kelima (cetakan Kelima, 2010). Jakarta : Balai Penerbit FKUI

Siregar R. S., 1995. Atlas Berwarna-Saripati Penyakit Kulit. Jakarta : EGC

One Comment leave one →
  1. dewi permalink
    Mei 23, 2010 5:15 pm

    Ibu saya umur 77th terserang herpes soster awal januari 2009. Sampai sekarang masih menderita kesakitan pada syaraf bahu yang terserang. Rasa sakit seperti digigit binatang atau ulat menyerang sepanjang hari. Pengobatan sdh dilakukan dengan obat asoklovir dll sejak awal terserang ttp rasa sakit tetap saja. Pernah dilakukan tusuk jarum pada saat awal ttp dihentikan krn menambah rasa sakit.
    Ada saran pengobatannya.
    Trima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: