Skip to content

Herpes Simpleks

Mei 10, 2010

Penyakit Kulit karena virus terdiri atas:

  1. Varisela
  2. Herpes Zoster
  3. Herpes Simpleks
  4. Variola
  5. Veruka
  6. Kondiloma Akuminatum
  7. Moluskum Kontagiosum

Herpes Simpleks

Nama lain: Fever Bilster, Herpes Labialis, Herpes Progenitalis (Genitalis)

Infeksi akut akibat virus herpes simpleks (HSV), ditandai vesikel kelompok diatas kulit sembab dan eritematosa pada daerah dekat mukokutan. Infeksi dapat berlangsung primer maupun rekuren.

Patogenesis

Herpes simpleks ditransmisikan dari orang-ke-orang melalui kontak langsung. Virus ini mengakibatkan vesikel kulit akibat aktivitas sitolitiknya. Virus dapat menginvasi secara local, dan melalui neuron sensoris, sehingga tetap laten di dalam ganglia sensoris. Reaktivasi dapat dipicu oleh beberapa factor (lihat bawah, mekanisme pacu). Karena imunitas yang diperantarai-sel dapat mengendalikan infeksi, pasien dengan kondisi immunosuppressive memiliki risiko reaktivasi infeksi berat.

Epidemiologi

Penyakit tersebar kosmopolit. Infeksi primer HSV tipe-1 biasanya dimulai pada anak. Infeksi HSV tipe-2 biasa pada dekade II dan III, dan berhubungan dengan aktivitas seksual.

Gejala Klinis.

HSV-1 sering asimtomatik, tapi pada anak kecil sering demam, gingivostomatitis vesicular, dan limfadenopati; orang dewasa menunjukkan gejala faringitis dan tonsillitis. Infeksi mata primer menyebabkan keratokonjungtivitis berat, infeksi rekuren menyebabkan terbentuknya jaringan parut kornea. Infeksi kulit primer (herpertic whitlow) biasanya muncul pada kulit yang mengalami trauma (misal jari). Ensefalitis fatal dapat terjadi. Transmisi maternal selama persalinan dapat menyebabkan infeksi neonates menyeluruh dan ensefalitis. Tempat predileksi HSV tipe-1 di daerah pinggang ke atas terutama mulut dan hidung. Inokulasi dapat terjadi secara kebetulan (kontak kulit, menggigit jari-herpetic whitlow). Diduga penyebab herpes ensefalitis.

HSV-2 menyebabkan ulkus genitalia, nyeri dan dapat memberat, dengan gejala sampai 3 minggu. Infeksi rekuren lebih ringan dan penyebaran virus terjadi dalam waktu singkat, tapi infeksi dapat ditransmisikan pada pasangan seksual. Meningitis jarang terjadi. Tempat predileksi HSV tipe-2 di daerah pinggang ke bawah, terutama genital. Berperan dalam herpes meningitis dan infeksi neonatum.

Daerah predileksi sering kacau karena hubungan seksual oro-genital, sehingga herpes daerah genital kadang akibat HSV tipe-1 dan daerah mulut akibat HSV tipe-2.

Gejala Klinis Berlangsung 3 tingkat

  1. Infeksi Primer.

Infeksi primer lebih lama dan lebih berat, ±3 minggu dan sering disertai gejala sistemik (demam, malese, anoreksia, pembengkakan kelenjar getah bening regional)

Kelainan klinis berupa vesikel berkelompok diatas kulit sembab dan eritematosa. Vesikel berupa cairan jernih, lalu menjadi seropurulen, krusta, kadang ulserasi dangkal, biasanya sembuh tanpa sikatrik. Pada perabaan tidak terdapat indurasi. Kadang dapat timbul infeksi sekunder sehingga memberi gambaran tidak jelas. Umumnya pada orang dengan kekurangan antibodi virus herpes simpleks. Pada wanita, 80% infeksi genitalia eksterna disertai infeksi serviks.

  1. Fase Laten

Tidak ditemukan gejala klinis, tetapi HSV dapat ditemukan dalam keadaan tidak aktif pada ganglion dorsalis

  1. Infeksi Rekurens

Fase berupa HSV pada ganglion dorsalis dalam keadaan tidak aktif, dengan mekanisme pacu (demam, infeksi, cahaya matahari, kurang tidur, hubungan seksual, gangguan emosional, menstruasi, makanan-minuman) menjadi aktif dan mencapai kulit sehingga menimbulkan gejala klinis.

Gejala klinis lebih ringan dari infeksi primer dan berlangsung ±7-10 hari. Sering ditemukan gejala prodromal lokal sebelum timbul vesikel (panas, gatal, nyeri). Infeksi rekurens ini dapat timbul pada tempat yang sama (loco) atau tempat lain/sekitarnya (non loco)

Gambaran Histopatologi

Tampak vesikel intraepidermal, infiltrate leukosit dan akantolisis akibat degenerasi balon sel epidermis, terlihat badan inklusi asidofilik intranukleus yang dikelilingi halo

Pemeriksaan Pembantu

Virus dapat ditemukan di vesikel dan dapat dibiak. Pada keadaan tidak ada lesi dapat diperiksa antibodi VHS. Percobaan Tzanck dengan pewarnaan giemsa ditemukan sel datia berinti banyak dan badan inklusi intranuklear.

Diagnosis

Deteksi NAAT (diagnostic standar). HSV mudah ditumbuhkan pada kultur jaringan dari specimen segar (cairan vesikel-mudah dilihat di mikroskop elektron, serta apus genitalia dan mulut)

Peranan serologi terbatas. Rasio antara serum dengan antibody cairan serebrospinal dapat mengindikasi produksi local dan dapat membantu diagnosis ensefalitis HSV. MRI atau CT-scan otak dapat menunjukkan lesil lobus temporal ensefalitis lobus yang khas.

Diagnosis Banding

Herpes simpleks ditemukan di daerah mulut dan hidung (bedakan dengan impetigo vesiko bulosa). Pada daerah genitalia (bedakan dengan ulkus durum, ulkus mole, ulkus mikstum, ulkus pada penyakit limfogranuloma venereum).

  • Herpes zoster pada bibir: lesi sepanjang perjalanan saraf
  • Impetigo: cairan serosa dan krusta menonjol
  • Ulkus durum: pemeriksaan lapangan gelap, dapat ditemukan spiroketa

Pengobatan

Belum ada terapi penyembuhan radikal pada periode infeksi rekurens. Pemberian cacar sudah tidak dipakai lagi.

Pada lesi dini, digunakan obat topical (salap/krim) yang mengandung preparat idoksuridin (stoxil, viruguent, virunguent-P) dengan cara aplikasi. Preparat asiklovir (zovirax), efek lebih baik dengan mengganggu replikasi DNA virus. Klinis hanya bermanfaat bila penyakit sedang aktif. Jika timbul ulserasi, dilakukan kompres.

Pengobatan oral dengan preparat asiklovir (valsiklovir, famsiklovir), memberi hasil lebih baik, penyakit berlangsung singkat, dan masa rekurensi memanjang. Dosis 5×200 mg/hari selama 5 hari. Secara parenteral dengan asiklovir, preparat adenine arabinosid (vitarabin), preparat glikoprotein pada penyakit yang lebih berat/komplikasi, misal ensefalitis.

Untuk mencegah rekuren, dengan pemberian preparat lupidon H (untuk HSV tipe-1), dan lupidon G (untuk HSV tipe-2) dalam 1 seri pengobatan. Levamisol dan isoprinosin atau asiklovir bisa memberi hasil baik yang berperan sebagai imunostimulator.

Prognosis

Selama pencegahan rekurens masih merupakan problem (psikologik). Pengobatan secara dini dan tepat memberi prognosis lebih baik (masa penyakit labih singkat dan rekurensi lebih jarang).

Pada orang gangguan imunitas (tumor di RES, pengobatan imunosupresan yang lama, fisik lemah) menyebabkan infeksi dapat menyebar ke organ dalam dan fatal. Prognosis akan lebih baik dengan meningkatnya usia seperti pada orang dewasa.

Referensi

Djuanda A, dkk. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Kelima (cetakan Kelima, 2010). Jakarta : Balai Penerbit FKUI

Gillespie S. dan Bamford K., 2007. At a Glance Mikrobiologi Medis dan Infeksi Edisi Ketiga. Jakarta : Erlangga

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: