Skip to content

Antraks

Mei 10, 2010
tags:
  • Nama lain: Malignant Pustule, Malignant Edema, Charbon, Ragpicker Disease, Woolsorter Disease
  • Disebabkan bacillus anthracis pada binatang ternak dan buas yang ditularkan ke manusia melalui kontak  dengan binatang terinfeksi atau dari bahan dari binatang yang terkontaminasi

Merupakan bakteri gram (+), batang, (1-2 x 5-10)µm, ujung berbatas tegas, berderet memanjang, tidak bergerak, berkapsul, dan berspora. Pembentukan spora terjadi pada keadaan aerob dan sedikit kalsium (misal di tanah terbuka dan produk hewan berbulu), mampu bertahan lama (bertahun-tahun) pada suhu tinggi, . Spora antraks berbentuk oval, tidak terlihat pada pewarnaan gram kecuali dengan pewarnaan khusus. Spora aktif setelah masuk tubuh hewan.

  • Umumnya bersifat sporadic. Luka berwarna hitam (yunani: “antrax”: arang batubara).
  • Faktor Risiko

Pekerjaan yang berhubungan dengan ternak dan hewan

  • Penularan pada manusia.

Kulit, kontak pada kulit luka, lecet, abrasi; Saluran cerna, konsumsi daging  terkontaminasi; Paru, menghisap spora; digigit serangga yang telah menggigit hewan infektif (jarang); transmisi manusia ke manusia (kontak langsung dengan secret lesi kulit penderita)

  • Gejala dan Tanda.

Jumlah spora yang bisa mengakibatkan manifestasi klinis pada manusia sekitar ribuan sampai 40000 spora. Masa inkubasi 7 hari dengan ±2-5 hari.

Secara klinis antraks dibadakan:

a. Antraks Kulit. Tipe terbanyak (90% kasus). Inkubasi 1-7 hari, timbul papul (gatal), lalu membentuk vesikel (tidak sakit) berisi serosanguineous, tidak purulen, pecah membentuk ulkus yang ditutupi kerak hitam kering (eschar), kemudian menjadi jaringan parut setelah 1-2 minggu; dasar kulit dari lesi terlihat undulasi, panas, merah, non-pitting edema yang meluas sehingga terjadi hipotensi oleh karena perpindahan cairan intravascular ke subkutan (tidak terdapat rasa sakit); demam, mialgia, sakit kepala, badan lemah, limfadenopati lokal, tanpa antibiotik timbul penyulit bakteriemi berlanjut meningitis, pneumonia, sepsis. Pemberian antibiotik tidak mengubah perjalanan alamiah klinis kulit, tapi mencegah penyulit diatas.

b. Antraks Saluran Pencernaan. Inkubasi 2-5 hari. Bermula nyeri perut difus, mual, muntah, diare, demam. Muntah darah, berak darah; darah segar, bisa terjadi perforasi usus, limfedenitis mesenterial, asites. Pada tipe orofaringeal antraks (limfadenopati antraks, edema leher, susah menelan, lesi seperti eschar pada mukosa mulut). Perkembangan lanjut berupa sepsis, meningitis, kematian (cukup tinggi).

c. Antraks Paru. Inkubasi 1-5 hari, dapat sampai 60 hari. Jarang ditemukan, gejala tidak khas pada ase pertama berupa batuk, lesu, lemah, dan tanda bronchitis lainnya). Fase kedua yang berat dan fatal dengan panas tinggi, sesak napas, sianosis, stridor, syok. Angka mortalitas sangat tinggi (75-90%);

d. Antraks Otak. Sangat jarang, biasanya merupakan kompllkasi tipe lain.

  • Pengobatan

Mudah disembuhkan bila diagnostic cepat dan tepat

Penisilin (pilihan utama). Bila sensitif, ganti dengan tetrasiklin, klorampenikol, atau eritromisin. Antraks Kulit diberikan penisilin prokain i.m. 2×1.2 juta unit/hari selama 5-7 hari (lakukan skin test terlebih dahulu). Antraks Saluran Pencernaan diberikan tetrasiklin 1 gr/hari dan Antraks Paru diberi IVFD penisilin G 18-24 unit/hari ditambah  streptomisin 1-2 gr.

Referensi

Sudoyo A. W. dkk, 2007. Buku Ajar – Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV. Jakarta : EGC

Widoyono, 2008. Penyakit Tropis-Epidemiologi, Penularan, Pencegahan, dan Pemberantasannya. Jakarta: Erlangga

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: