Skip to content

Gangguan Saluran Empedu Ekstrahati

April 28, 2010

Koledokolitiasis dan Kolangitis Asendens

  1. Kedua penyakit ini sering terjadi bersamaan.
  2. Koledokolitiasis merupakan batu dalam saluran empedu.
  3. Kolangitis adalah peradangan akut dinding saluran empedu, hampir selalu disebabkan infeksi bakteri pada lumen steril. Kejadian ini seringkali terjadi akibat obstruksi saluran empedu, terutama koledokolitiasis, dan penyebab jarang seperti tumor, kateter, indwelling stents, pancreatitis akut, dan striktur ringan. Bakteri (E. coli, klebsiella, clostridium, bacteroides, enterobacter, streptococcus grup D) kemungkinan besar masuk ke sfingter oddi. Sebagian pula, kolangitis parasit, misal, fasciola hepatica, skistosomiasis, dll. Kolangitis asendens cenderung menginfeksi cabang saluran empedu intrahati. Kolangitis bakteri biasanya menyebabkan demam, menggigil, nyeri abdomen, dan ikterus, bentuk terparah , kolangitis supurativa (empedu purulennya memenuhi dan meregangkan saluran empedu, disertai risiko abses hati). Karena risikonya berupa sepsis, bukan kolestasis, harus didiagnosis dini dan intervensi segera.

Atresia Biliaris

Merupakan obstruksi total aliran empedu akibat kerusakan atau tidak adanya sebagian atau seluruh saluran empedu ekstrahati. Penyakit ini bukan atresia biliaris sejati, tapi penyakit peradangan didapat yang idiopatik.

Merupakan penyebab tersering kematian akibat penyakit hati pada anak dan merupakan penyebab lebih dari separuh anak dirujuk untuk transplantasi.

Gambaran utama

1) peradangan dan striktur fibrotic duktus hepatikus atau duktus biliaris komunis; 2) peradangan saluran utama empedu intrahati; 3) gambaran mencolok obstruksi empedu pada biopsy hati (yaitu proliferasi duktulus empedu yang mencolok, edema dan fibrosis traktus porta dan kolestasis parenkim); 4) fibrosis periporta dan sirosis dalam 3-6 bulan setelah lahir.

Perjalanan penyakit

Bayi dengan atresia biliaris bemanifestasi sebagai kolestasis neonates. Punya berat lahir normal dan mengalami penambahan berat setelah lahir. Perkembangan tinja awalnya normal menjadi tinja akolik.

Terapi

Bedah masih menjadi pilihan utama. Tanpa intervensi bedah, pasien biasanya meninggal dalam usia ±2 bulan

Referensi

Kumar V., Cotran R. S., Robbins S. L., 2007. Buku Ajar Patologi Volume 2 Edisi 7. Jakarta : EGC

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: