Skip to content

Badan Lemah dan Cepat Pusing

April 20, 2010

Kali ini kita menangangi pasien, pria (40 tahun), dengan keluhan sejak beberapa waktu yang lalu badan terasa lemah, cepat lelah dan sering pusing. Pada anamnesis didapatkan bahwa sejak ±3 bulan lalu, apabila buang air besar (b.a.b) sering disertai darah pada feses. Setelah dilakukan pemeriksaan fisik (PF), terlihat adanya tanda gangguan pada system darah (kelainan eritrosit). Setelah dilakukan pemeriksaan lab hematologi rutin, selain anemia, kemungkinan disertai gangguan hematologis lain. Untuk sampai pada etiologinya, diperlukan pemeriksaan hematologis lain.

Dari sini penulis cenderung bahwa pasien mengalami anemia. Tapi masih dicari kemungkinan lain, mengenai b.a.b disertai darah (apa yang menyebabkannya?), selain itu gangguan hematologis lain.

Pembahasan kasus terlebih dulu mengenai sel darah merah (eritrosit).

Eritrosit

Ukuran eritrosit ±8 µm pada bagian terlebarnya, bikonkaf, tidak memiliki nukleus. Eritrosit memproduksi suatu protein, hemoglobin [Hb](suatu molekul pembawa oksigen), terbuat dari cetakan mRNA, dan tetap ada dalam sel walaupun nukleus sudah menghilang dalam perkembangan sel.

Karena tidak adanya nukleus, eritrosit tidak bisa memperbaiki diri, sehingga umurnya hanya 100-130 hari, setelah itu masuk ke dalam sirkulasi hati dan limpa untuk dihancurkan.

Pada neonatus, eritrosit diproduksi dalam hati dan limpa. Pada anak, eritrosit diproduksi dalam sumsum tulang besar. Sedangkan pada orang dewasa, eritrosit diproduksi dalam sumsum merah tulang di tulang tubuh utama, tengkorak, di ujung humerus dan femur

Produksi eritrosit distimulasi oleh eritropoietin (EPO), suatu hormon yang disekresi oleh ginjal sebagai respon akibat kekurangan darah (hipoksia).

Produksi Hb tergantung pada besi, asam folat, dan vitamin B₁₂ (semua zat ini bisa didapat dalam makanan). Apabila terdapat defisiensi zat-zat tersebut, akan terjadi gangguan pengangkutan oksigen sehingga terjadi anemia.

Anemia juga bisa terjadi karena menurunnya jumlah eritrosit (karena perdarahan, leukemia ) atau kelainan Hb (talasemia, mutasi sel sabit/sickle cell yang melindungi terhadap malaria)

Nilai rata-rata eritrosit pada laki-laki 4.5-5.5 x10¹² L¯¹, pada wanita 3.8-4.8 x10¹² L¯¹.

Anemia

Anemia secara fungsional merupakan penurunan jumlah massa eritrosit sehingga tak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa oksigen dalam jumlah cukup ke jaringan perifer. Secara praktis, anemia merupakan penurunan kadar Hb, hematokrit atau hitung eritrosit. Sehingga kapasitas O₂ berkurang dan kandungan O₂ pada nilai PO₂ berapapun menurun. PO₂ arteri dan saturasi O₂ tetap normal. Untuk menghantarkan jumlah O₂ yang sama ke jaringan, maka PO₂ kapiler harus turun jauh lebih dari normal, mengurangi gaya penggerak untuk difusi O₂ ke dalam jaringan. Kejadian penghantaran O₂ menjadi tidak adekuat pada saat olahraga.

Criteria anemia menurut WHO.

Kelompok Criteria Anemia
Pria dewasa < 13 g/dL
Wanita dewasa tidak hamil < 12 g/dL
Wanita hamil < 11 g/dL

Tapi untuk keperluan klinik di Indonesia, criteria WHO sulit dipakai di Indonesia, sehingga diambil jalan tengah dengan nilai < 10 g/dL sabagai awal dari work up anemia

Etiologi dan Klasifikasi Anemia

Anemia hanyalah suatu kumpulan gejala yang disebabkan oleh berbagai penyebab. Secara umum anemia disebabkan oleh: 1) gangguan pembentukan eritrosit dalam sumsum tulang, 2) hemoragik, 3) anemia hemolitik, 4) idiopatik

Berdasarkan gambaran morfologik dengan melihat indeks eritrosit atau hapusan darah tepi, anemia dibagi menjadi: 1) anemia hipokrom mikrositer (MCH <27 pg dan MCV <80 fl); 2) anemia normokrom normositer (MCH 27-34 pg dan MCV 80-95 fl); 3) anemia makrositer (MCV >95 fl).

Patofisiologi dan Gejala Anemia

Gejala umum anemia (sindrom anemia) seperti lemah, lesu, cepat lelah, telinga berdenging (tinnitus), mata berkunang-kunag, kaki terasa dingin, sesak napas dan dyspepsia. Pada PF, tampak pucat (mudah dillihat di konjungtiva, mukosa mulut, telapak tangan, jaringan di bawah kuku). Semua gejala ini timbul karena: 1) anoksia organ, 2) mekanisme kompensasi tubuh terhadap berkurangnya daya angkut oksigen. Gejala tampak jelas apabila kadar Hb <7 g/dL

Pemeriksaan untuk Diagnosis Anemia

  1. 1. Pemeriksaan lab. terdiri dari: a) pemeriksaan penyaring (screening test), b) pemeriksaan darah seri anemia, c) pemeriksaan sumsum tulang, d) pemeriksaan khusus
  2. 2. Pemeriksaan penyaring. Terdiri dari pengukuran kadar Hb, indeks eritrosit, dan hapusan darah tepi
  3. 3. Pemeriksaan darah seri anemia. Meliputi hitung leukosit, trombosit, hitung retikulosiit, dan laju endap darah
  4. 4. Pemeriksaan sumsum tulang.
  5. 5. Pemeriksaan khusus.

Pendekatan Diagnosis pada Kasus diatas.

Anemia hanyalah suatu sindrom, bukan bukan suatu kesatuan penyakit (disease entity), yang dapat disebabkan oleh berbagai penyakit dasar (underlying disease). Sehingga tidak hanya pada diagnosis anemia, tapi sampai pada penyakit dasar yang menyebabkan anemia.

Pendekatan Terapi pada Kasus diatas.

  1. Pengobatan diberikan berdasarkan diagnosis definitive yang telah ditegakkan terlebih dahulu
  2. Pemberian hematinik tanpa indikasi yang jelas tidak dianjurkan
  3. Pengobatan anemia dapat berupa: terapi untuk keadaan darurat (perdarahan akut), terapi suportif, terapi kausal untuk mengobati penyakit dasar yang menyebabkan anemia
  4. Bila diagnosis definitive tidak dapat ditegakkan, bisa diberikan terapi percobaan (terapi ex juvantivus) –> tetap ada pemantauan terapi dan perubahan perjalanan penyakit
  5. Transfuse (packed red cell, bukan whole blood)diberikan pada anemia pasca perdarahan akut dengan tanda-tanda gangguan hemodinamik

Kesimpulan

Keadaan badan pasien yang terasa lemah, cepat lelah dan sering pusing; pemeriksaan fisik, terdapat tanda gangguan pada sistem darah (kelainan eritrosit) dipastikan suatu keadaan anemia. Badan terasa lemah, cepat lelah, pusing, diakibatkan aliran oksigen ke semua organ tidak lancar (karena kurangnya Hb mengikat oksigen). Pada anamnesis didapatkan bahwa sejak ±3 bulan lalu, apabila b.a.b sering disertai darah pada feses. Sehingga dapat kita duga jenis anemia kasus diatas akibat perdarahan pada saluran cerna. Penyakit yang mendasari anemia tersebut (perdarahan pada saluran cerna) harus dicari dimana letak perdarahannya.

Referensi

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV. Jakarta : EGC

Ward J., Clarke R., Linden R., 2005. At a Glance Fisiologi. Jakarta : EGC

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: