Skip to content

Terapi Hipertensi

Februari 28, 2010

Pada hipertensi ringan sampai sedang sering dikendalikan dengan pengobatan tunggal, biasanya tiazid atau bloker β, tapi hipertensi yang berat bisa perlu kombinasi dua atau tiga obat untuk bisa mengendalikan tekanan darah (TD).

Obat yang Bekerja Sentral

  • Contoh: Metildopa, Klonidin
  • Bekerja dengan menurunkan aliran simpatis dengan menstimulasi adrenoseptor α₂ sentral, tapi sekarang jarang digunakan dengan alasan efek sampingnya
  • Metildopa diubah dalam ujung saraf adrenergic menjadi transmitor palsu (metilnorepinefrin α) yang menstimulasi reseptor α₂ pada medulla dan menurunkan aliran simpatis
  • Metildopa sering menyebabkan kantuk, anemia hemolitik (jarang), tes antiglobulin + (pada 20% pasien)
  • Klonidin menyebabkan rebound hypertension bila obat dihentikan mendadak

Diuretic Tiazid

  • Contoh: bendroflumetiazid, indapamid, dll
  • Menurunkan TD arteri (tapi belum diketahui mekanismenya). Pada awalnya tekanan darah turun karena terdapat penurunan volume darah, aliran balik vena, dan curah jantung. Secara bertahap curah jantung kembali normal, tapi hipotensi masih ada
  • Diuretic tidak mempunyai efek langsung pada otot vascular, tapi salah satu mekanisme yang mungkin dengan penurunan Na⁺ di otot polos yang menyebabkan penurunan sekunder Ca²⁺ intersel sehingga otot menjadi kurang responsif
  • Efek samping: hipokalemia, DM, gout, mengubah darah secara ‘aterogenik’, impotensi dan penurunan libido. Tapi sekarang banyak digunakan tiazid dosis rendah untuk menurunkan TD efek metabolic yang tidak signifikan

Antagonis Adrenoseptor β

  • Bloker β menurunkan TD melalui curah jantung. Terapi kontinu, curah jantung bisa kembali normal, tapi TD tetap rendah karena resistensi vaskuler perifer pada tingkat rendah dengan mekanisme belum diketahui
  • Kerja bloker β hanya efektif pada kadar renin normal atau rendah
  • Efek samping: tangan dingin, fatigue, jarang tapi serius (misal: provokasi asma, gagal jantung, atau bllk konduktansi
  • Efek samping bisa dikurangi dengan obat hidrofilik kardioselektif (tidak dimetabolisme di hati dan tidak masuk otak) seperti atenolol
  • Cenderung meningkatkan Trigliserida serum, menurunkan HDL
  • Contoh: β₁ atau β₂ (propanolol); selektif β₁ (atenolol, metoprolol)

Obat Vasodilator

Inhibitor ACE (ACE-i)

  • Contoh: captoprol, enalapril
  • Menghambat sintesis Angiotensin II (merupakan vasokonstriktor) sehingga menurunkan resistensi perifer dan TD
  • ACE-i tidak mengganggu refleks kardiovaskular
  • Efek samping: batuk kering akibat peningkatan bradikinin (ACE juga memetabolisme bradikinin), jarang namun serius (angioedema, proteinuria, dan neutropenia)
  • Dosis pertama menyebabkan penurunan TD yang drastik
  • ACE-i bisa menyebabkan gagal ginjal pada pasien stenosis renalis bilateral karena tampaknya angiotensin II  diperlukan untuk konstriksi arteri pascaglomerulus dan mempertahankan  filtrasi glomerulus yang cukup

Antagonis Reseptor Angiotensin

  • Contoh: Losartan
  • Menurunkan TD dengan memblok reseptor Angiotensin (AT₁)
  • Mempunyai sifat sama dengan ACE-i tapi tidak menyebabkan batuk

Bloker Kanal Kalsium (Antagonis Kalsium)

  • Contoh: Nifedipin,Amlodipin
  • Bekerja dengan menutup kanal Ca²⁺, menghambat Ca²⁺ masuk sel menyebabkan relaksasi otot polos arteri —> resistensi perifer dan TD menurun
  • Efikasi Antagonis Kalsium sama dengan efikasi tiazid, bloker β, dan ACE-i
  • Efek samping: vasodilatasi berlebih, pusing, hipotensi, muka merah, edema pergelangan kaki

Antagonis Adrenoseptor α₁

  • Contoh: Prazosin, Doxazosin
  • Bekerja dengan penghambatan selektif Adrenoseptor α₁ vascular (yang meningkatkan konsentrasi Ca²⁺) —>  vasodilatasi
  • Tidak seperti Bloker α nonselektif, Antagonis Adrenoseptor α₁ tidak menyebabkan takikardi tapi menyebabkan hipotensi postural
  • Dosis pertama bisa menyebabkan hipotensi berat
  • Prazosin, Doxazosin meredakan gejala hyperplasia prostat sehingga diindikasikan  pada pasien hipertensi dengan kondisi tersebut

Aktivasi Kanal K⁺

  • Contoh obat: Minoksidil
  • Merupakan vasodilator poten yang menyebabkan retensi cairan berat dan edema
  • Bekerja dengan relaksasi otot polos vascular dengan dengan membuka kanal K⁺ yang sensitive terhadap ATP, menyebabkan hiperpolarisasi, dan menutup kanal Ca²⁺ yang sensitive terhadap tegangan
  • Bila dikombinasikan dengan bloker β dan diuretic loop,minoksidil efektif pada hipertensi berat yang resisten dengan obat lain

Vasodilator dengan Mekanisme yang Tidak Diketahui

  • Contoh obat: Hidralazin, digunakan dengan kombinasi bolker β dan diuretic
  • Efek samping: takikardi reflex, yang bisa menimbulkan angina, sakit kepala,, retensi cairan (akibat hiperaldosteronisme sekunder). Hidralazin bisa menginduksi Sindrom Lupus dengan tanda demam, atralgia, malaise, dan hepatitis

Neal M. J. 2005. At a Glance Farmakologi Medis Edisi Kelima. Jakarta : Erlangga.

One Comment leave one →
  1. Februari 28, 2010 10:32 am

    kunjung balik yah..

    http://programatujuh.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: