Skip to content

APPENDISITIS

Februari 28, 2010

Adalah peradangan dari apendiks vemiformis, merupakan penyebab abdomen akut paling sering (Price and Wilson, 2001). Dapat mengenai semua umur baik pria ataupun wanita, tetapi lebih sering mengenai pria berusia antara 10-30 tahun.

Anatomi Appendiks

Appendix vermiformis adalah organ yang mengandung banyak jaringan limfoid. Panjang appendix antara 8-13 cm. Dasarnya melekat pada permukaan posteromedial caecum, sekitar 2,5 cm dibawah junctura ileocaecalis. Bagian appendix lainnya bebas. Appendix mempunyai penutup peritoneum yang lengkap, yang melekat pada lapisan bawah mesenterium usus halus untuk membentuk mesenteriumnya sendiri yang pendek, yaitu mesoappendix dengan ukuran yang berbeda-beda. Appendix terletak pada regio iliaca kanan, pangkalnya terletak sepertiga dari garis yang menghubungkan SIAS kanan dengan umbilicus (titik Mc Burney). Ujung appendix mudah bergerak dan dapat ditemukan pada tempat-tempat berikut:

  • Tergantung dalam pelvis berhadapan dengan dinding kanan pelvis.
  • Melekuk dibelakang caecum pada fossa retrocaecalis
  • Menonjol keatas sepanjang pinggir lateral caecum
  • Didepan atau dibelakang bagian terminal ileum.

Posisi pertama dan kedua merupakan posisi yang paling sering ditemukan.

Pembuluh arteri appendix adalah a. caecalis posterior, vena appendicularis bersatu dengan vena caecalis posterior.

Pembuluh limfe mengalirkan cairan limfe mengalirkan 1 atau 2 nodi limpoidei (nnll) yang terletak pada mesoappendix kemudian berjalan melalui nnll mesenterikus untuk mencapai nnll mesenterikus superior.

Saraf appendix berasal dari saraf simpatis dan parasimpatis (n. vagus) dari pleksus mesenterikus superior. Serabut saraf aferen yang menghantarkan rasa nyeri viseral dari appendix berjalan bersama saraf simpatis dan masuk ke medula spinalis setinggi segmen Thorak X. (Snell, 2005)

Patogenesis Appendisitis

Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya atau neoplasma.

Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, juga ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium.

Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut.

Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi.

Bila semua proses diatas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak ke arah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrat.

Pada anak, karena omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang, dinding apendiks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah. (Arief Mansjoer dkk, 1999)

Gambaran Klinis

Anamnesis

  • Permulaan timbulnya nyeri (kapan mulai, mendadak, atau berangsur)
  • Letaknya (menetap, pindah, atau beralih)
  • Keparahan dan sifatnya (seperti ditusuk, tekanan, terbakar, irisan atau kolik)
  • Perubahannya (dibandingkan dengan permulaan)
  • Lamanya
  • Apakah berkala
  • Faktor yang mempengaruhi (memperingan dan memperberat
  • Apakah pasien pernah mengalami nyeri sebelumnya

Saat anamnesis biasanya ditemukan

  • Nyeri perut yang dimulai di epigastrium dan sekitar umbilikus, kemudian berpindah dan menetap di kwadran kanan bawah
  • Anoreksia, nausea dan vomitus
  • Demam yang tidak begitu tinggi
  • Diare atau obstipasi (tak spesifik)

Pemeriksaan fisik

  • Sikap jalan agak terbongkok, fleksi sendi panggul kanan dan agak tertinggal pada pernafasan
  • Nyeri tekan, nyeri lepas, nyeri ketok dan defans muskuler pada daerah Mc.Burney, yang bertambah dengan peninggian tekanan intraabdominal (batuk,dsb)
  • Bising usus sedikit meninggi didaerah Mc.Burney

Tanda Khusus :

  • Tanda Rovsing: nyeri tekan kontralateral
  • Tanda Blumberg: nyeri lepas kontralateral
  • Tanda psoas: dalam keadaan terlentang, kaki kanan diangkat. Akan terasa nyeri karena regangan peritoneum (terutama pada apendiks retrosekal)
  • Tanda Pen Horn: bila dalam posisi terlentang testis kanan ditarik, terasa nyeri didaerah Mc.Burney.

Rectal Toucher. Nyeri tekan sekitar jam 11. Cari kemungkinan cairan di cavum Douglas, suhu rektal yang bedanya >1˚C dengan suhu aksila akan memperkuat diagnosis.

Pemeriksaan penunjang

  • Uji laboratorium
  • Pemeriksaan hemoglobin dan hematokrit —> kemungkinan perdarahan atau dehidrasi
  • Hitung leukosit —> menunjukkan peradangan
  • Hitung trombosit dan faktor koagulasi —> untuk persiapan bedah dan membantu menegakkan kemungkinan demam berdarah (gejala mirip dengan gawat perut).
  • Pencitraan diagnostik (rontgen atau endoskopi) —> memastikan adanya peritonitis, udara bebas, obstruksi atau paralisis usus.
  • Pemeriksaan ultrasonografi —> membantu menegakkan diagnosis kelainan hati, saluran empedu dan pankreas serta appendisitis. (Agus P. dan Budi S., 2000; Sjamsuhidayat, R dan Wim de Jong, 1997)

Penatalaksanaan

Sebelum operasi

  • Observasi

Dalam 8-12 jam setelah timbulnya keluhan, tanda dan gejala apendisitis sering masih belum jelas. Dalam keadaan ini observasi ketat diperlukan. Pasien diminta melakukan tirah baring dan dipuasakan. Laksatif tidak boleh diberikan bila dicurigai adanya apendisitis ataupun bentuk peritonitis lainnya. Pemeriksaan abdomen dan rektal serta pemeriksaan darah (leukosit dan hitung jenis) diulang secara periodik. Foto abdomen dan thorax tegak dilakukan untuk mencari kemungkinan adanya penyulit lain. Pada kebanyakan kasus, diagnosis ditegakkan dengan lokalisasi nyeri di daerah kanan bawah dalam 12 jam timbulnya keluhan.

  1. Intubasi bila perlu
  2. Antibiotik
  • Operasi apendiktomi
  • Pasca operasi

Perlu dilakukan observasi tanda-anda vital untuk mengetahui terjadinya perdarahan di dalam, syok, hipertermia, atau gangguan pernafasan. Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar, sehingga aspirasi cairan lambung dapat dicegah. Baringkan pasien dalam posisi Fowler. Pasien dikatakan lebih baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan. Selama itu pasien dipuasakan. Bila tindakan operasi lebih besar, misalnya pada perforasi atau peritonitis umum, puasa diteruskan sampai fungsi usus kembali normal.

Kemudian berikan minum mulai 15 ml/jam selama 4-5 jam lalu dinaikkan menjadi 30 ml/jam. Keesokan harinya diberikan makanan saring, dan hari berikutnya diberikan makanan lunak.

Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak ditempat tidur di luar kamar. Hari ketujuh, jahitan dapat diangkat dan pasien boleh pulang. (Arief Mansjoer dkk, 1999)

Diagnosis Banding

  • Golongan gastro enteritis
  1. limfadenitis mesenterik
  2. enterokolitis
  3. ileitis terminalis
  • Kelainan organ pelvis wanita
  1. Folikel ovarium pecah
  2. Salfingitis
  3. Torsi ovarium
  4. KET (Kehamilan Ektopik Terganggu)
  • Kelainan pada saluran kemih
  1. batu ginjal/batu ureter
  2. Pielonefritis
  • Kelainan lain dalam abdomen
  1. Tukak peptic
  2. Divertikulitis
  3. Kolesistitis
  4. Perforasi Ca Colon
  5. Pankreatitis
  • Penyakit diluar abdomen
  1. Pneumonia
  2. Pleuritis
  3. Infark Miokard
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: