Skip to content

Batuk Berdahak Kental disertai Panas Badan

Desember 8, 2009

Kali ini kita kedatangan seorang wanita 35 tahun datang ke poli Penyakit Dalam dengan keluhan batuk berdahak kental, badan panas sejak 10 hari yang lalu. Penderita minum obat batuk yang dibeli di apotik namun batuk tidak mereda. Pemeriksaan paru oleh dokter didapatkan infeksi pada lobus tengah paru kanan. Keredupan pada perkusi paru dan ronkhi basah pada auskultasi. Untuk memastikan infeksi harus dilakukan foto rontgen thoraks.

Batuk berdahak kental
Batuk merupakan gejala penyakit pernapasan yang paling umum, berfungsi, terutama untuk pertahanan paru terhadap masuknya benda asing. Baik orang sehat maupun orang sakit, batuk dapat dengan disadari (volunteer) maupun tak disadari (involunter). Batuk yang disadari merupakan respon terhadap perasaan adanya sesuatu dalam saluran napas. Batuk yang tak disadari terjadi akibat reflex yang dipacu oleh perangsangan laring, trakea, atau bronchi yang besar atau hilangnya compliance paru. Batuk dikatakan abnormal jika jumlahnya sangat banyak dan tidak sesuai atau terbentuk sputum. (Stark, 1990)
Suara batuk efektif memerlukan: (1)Glotis yang berfungsi normal; (2)Inspirasi dan ekspirasi yang adekuat; (3)Saluran napas yang terbuka, obtruksi saluran napas akan mengganggu ekspektorasi secret; (4)Pembersihan bronchial yang normal, hal ini butuh silia, elastisitas bronkus, dan viskositas cairan yang normal. (Stark, 1990)
Sputum merupakan materi yang diekspektorasi dari saluran napas bawah oleh batuk, yang bercampur ludah. Sekresi bronkus normal tak cukup banyak untuk diekspektorasi, biasanya dialirkan ke laring oleh aksi silia lalu ditelan. (Stark, 1990)
Gambaran sputum. Mungkin dapat membantu diagnosis, meskipun makanan/minuman yang baru saja ditelan mungkin mengkontaminasi sputum. (Stark, 1990)

Kita mencurigai penyakit pneumonia pada penderita sakit akut apabila didapati demam, batuk (dengan/ tanpa sputum purulen), sesak napas, nyeri pleuritik. (Stark, 1990)

Pneumonia merupakan suatu penyakit saluran napas bawah (lower respiratory tract, LRT) akut, biasanya disebabkan infeksi disertai demam, gejala thoraks fokal dan pembentukan bayangan paru pada foto thoraks (CXR). (Ward J.P.T, ward. J, Leach R.M, Wiener C.M: 2006)
Agen-agen mikroba yang menyebabkan pneumonia memiliki 3 bentuk transmisi primer:
• Aspirasi secret berisi mikroorganisme pathogen yang berkolonisasi di orofaring
• Inhalasi aerosol infeksius
• Penyebaran hematogen ektrapulmonal (jarang). (Lorraine M.Wilson, 2006)
Mikroorganisme dan masalah patologis yang menyebabkan pneumonia
• Infeksi bakteri (S. pneumonia, H. influenza, Klebsiella pneumonia, P. aeruginosa, E. coli)
• Infeksi atipikal (M. pneumonia, Legionella)
• Infeksi jamur (Aspergillus, Candida)
• Infeksi virus (Influenza, Adenovirus, Sinsitial respiratorius, Coxsackie)
• Infeksi protozoa (Pneumocystis carinii, Amebiasis, Toksoplasmosis). (Ward J.P.T, ward. J, Leach R.M, Wiener C.M: 2006)
Bentuk-bentuk pneumonia (gambaran anatomis)
Lobaris : seluruh lobus mengalami konsolidasi, eksudat intraalveolar supuratif, biasanya oleh pneumococcus, klebsiella
Nekrotisasi: granuloma dapat mengalami nekrosis kaseosa dan membentuk kavitas , biasanya oleh jamur, infeksi basil tuberkel, mycobacterium tuberculosis,
Lobular : penyebaran berbercak dengan diameter daerah infeksi 3-4 cm, eksudat fibrinosa terutama pada bronkiolus, biasanya oleh streptococcus, staphylococcus
Interstisial:eksudat perivaskular dan edema diantara alveoli, disebabkan oleh virus atau mikoplasma. (Lorraine M.Wilson, 2006)
Pada situasi klinis, klasifikasi mikrobiologis pneumonia tidak mudah dilakukan karena organisme penyebab tidak terindentifikasi atau penegakan diagnosis memerlukan beberapa hari. Demikian juga, gambaran anatomis (radiografis). (Ward J.P.T, ward. J, Leach R.M, Wiener C.M: 2006)

Badan panas sejak 10 hari yang lalu yang merupakan hasil dari inflamasi (kalor)

Infeksi pada lobus tengah paru kanan.
Pada kasus diatas terjadi infeksi pada lobus tengah paru kanan, penulis berpikir ke pneumonia lobaris, yang menunjukkan adanya konsolidasi pada lobus tersebut, terdapatnya eksudat intraalveolar supuratif, biasanya oleh pneumococcus, klebsiella (Wilson,2006). Lalu dengan menggunakan petunjuk radiologis bisa ditentukan etiologi bakteri berupa streptococcus pneumoniae, mycoplasma pneumonia. Pada pemeriksaan fisiknya menunjukkan gerakan paru yang berkurang, pekak pada perkusi dan derak inspirasi lambat (late inspiratory crackles) (Stark, 1990).
Penjelasan mengenai eksudat dan transudat:
Eksudat merupakan cairan berprotein >30 g/L, yang mungkin terjadi akibat:
• Peradangan: pneumonia, abses subprenik, infark paru
• Neoplasma pleura: efusi karena keganasan seringkali merah karena darah, dan kambuh lagi setelah aspirasi
• Kelainan drainase limfe: sindroma kuku kuning. (Stark, 1990)
Transudat merupakan cairan berprotein <30 g/L, seringkali bilateral dan mungkin terjadi akibat:
• Peningkatan tekanan vena pulmonalis: gagal ventrikel kiri (umum), stenosis mitral (jarang), perikarditis konstriktiva (jarang)
• Hipoalbuminemia: malnutrisi, malabsorpsi, sindroma nefrotik, sirosis
• Mediastinisis fibrosis atau myxedema (sangat jarang). (Stark, 1990)

Keredupan pada perkusi paru karena terdapat keredupan pada paru kanan lobus tengah yang menunjukkan paru mengalami pemadatan. Hal ini terlihat pada gambaran hasil ronsen thoraks. Kepadatan terjadi karena paru dipenuhi oleh sel radang dan cairan yang merupakan bentuk respon tubuh mematikan kuman. Tapi respon ini berakibat terganggunya fungsi paru, sehingga penderita sulit bernapas karena tak tersisa ruang oksigen.

Ronkhi basah pada auskultasi
Ronki basah (crackles atau rales)merupakan suara napas yang terputus-putus, bersifat non musical, biasanya terdengar saat inspirasi akibat udara yang melewati cairan dalam saluran napas. Ronki basah dibagi ronki basah halus dan kasar tergantung besarnya bronkus yang terkena. Ronki basah halus terjadi karena adanya cairan alveoli pada bronkiolus, sedangkan pada ronki basah yang lebih halus berasal dari alveoli (krepitasi)akibat terbukanya alveoli pada akhir inspirasi terjadi terutama pada fibrosis paru. Sifat ronki basah ini dapat bersifat nyaring (bila ada infiltrasi misal pneumonia) atau tidak nyaring (edema paru). (Rumende, 2007)

Foto rontgen thoraks.
Foto rontgen thoraks bisa menjadi pemeriksaan penunjang batuk, mempunyai gambaran normal pada batuk akibat asma, tumor trakea, tumor endobronkial, bronchitis kronis, bronkiektasis sehingga akan tampak gambaran abnormal thoraks dengan batuk pada pneumonia. Foto rontgen thoraks PA dan Lateral diperlukan untuk menyakinkan adanya konsolidasi yang kecil, untuk membedakan konsolidasi yang kolaps dan menentukan letak perselubungan pada paru. Dan jika diteruskan pada pemeriksaan mikrobiologi sputum akan banyak membantu mendiagnosis penyebab batuk yaitu berupa pneumonia. (Stark, 1990)
Pada pneumonia, sputum bentuk purulen, berwarna kuning yang menunjukkan adanya peradangan dalam paru (Stark, 1990). Sputum berwarna kuning karena adanya neutrofil aktif (Rumende, 2007)

Penatalaksanaan
Tindakan suportif: meliputi oksigen untuk mempertahankan PaO₂ >8 kPa (SaO₂ <90%) dan resusitasi cairan intravena (±inotrop) untuk memastikan stabilitas hemodinamik. Bantuan ventilasi: ventilasi noninvasive (misal: tekanan jalan napas positif kontinu (Continuous positive airway pressure/CPAP)) atau ventilasi mekanis mungkin diperlukan pada gagal napas. Fisioterapi dan Bronkoskopi: membantu bersihan sputum
Terapi Antibiotik awal: menggambarkan “tebakan terbaik” berdasarkan klasifikasi pneumonia dan kemungkinan oraganisme, karena hasil mikrobiologis tidak tersedia selama 12-72 jam. Terapi disesuaikan bila ada hasil dan sensitivitas biotik. (Ward J.P.T, ward. J, Leach R.M, Wiener C.M: 2006)

One Comment leave one →
  1. Desember 19, 2009 7:08 pm

    meliputi oksigen untuk mempertahankan PaO₂ >8 kPa (SaO₂ <90%) dan resusitasi cairan intravena (±inotrop) untuk memastikan stabilitas hemodinamik. Bantuan ventilasi: ventilasi noninvasive (misal: tekanan jalan napas positif kontinu (Continuous positive airway pressure/CPAP)) atau ventilasi mekanis mungkin diperlukan pada gagal napas. Fisioterapi dan Bronkoskopi: membantu bersihan sputum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: