Skip to content

Gejala yang Berkaitan pada Pernapasan

November 25, 2009

Batuk
Merupakan gejala penyakit pernapasan yang paling umum, berfungsi, terutama untuk pertahanan paru terhadap masuknya benda asing. Baik orang sehat maupun orang sakit, batuk dapat dengan disadari (volunteer) maupun tak disadari (involunter). Batuk yang disadari merupakan respon terhadap perasaan adanya sesuatu dalam saluran napas. Batuk yang tak disadari terjadi akibat reflex yang dipacu oleh perangsangan laring, trakea, atau bronchi yang besar atau hilangnya compliance paru. Batuk dikatakan abnormal jika jumlahnya sangat banyak dan tidak sesuai atau terbentuk sputum. (Stark, 1990)
Suara batuk efektif memerlukan: (1) Glotis yang berfungsi normal; (2) inspirasi dan ekspirasi yang adekuat; (3)saluran napas yang terbuka, obtruksi saluran napas akan mengganggu ekspektorasi secret; (4)pembersihan bronchial yang normal, hal ini butuh silia, elastisitas bronkus, dan viskositas cairan yang normal. (Stark, 1990)

Gambaran Klinis Batuk: (1) Suara batuk. Jika glotis berfungsi, batuk akan menunjukkan suatu letusan tiba-tiba. Jika tidak berfungsi, suara ekspirasi dini kurang jelas dan bernada rendah (batuk sapi); (2) Gerakan inspirasi dan ekspirasi selama batuk. Suara batuk efektif memerlukan adanya inspirasi yang adekuat; (3) Perhatikan suara serak, stridor atau mengi (wheezing), yang menunjukkan adanya obstruksi laring, trakea atau bronkus. Juga perhatikan adanya kelainan fonasi atau menelan yang mungkin menunjukkan kasus neurologis atau fisik akibat aspirasi cairan atau padatan ke dalam paru. (Stark, 1990)

Sputum
Materi yang diekspektorasi dari saluran napas bawah oleh batuk, yang bercampur ludah. Sekresi bronkus normal tak cukup banyak untuk diekspektorasi, biasanya dialirkan ke laring oleh aksi silia lalu ditelan. (Stark, 1990)

Gambaran sputum. Mungkin dapat membantu diagnosis, meskipun makanan/minuman yang baru saja ditelan mungkin mengkontaminasi sputum. Sputum bisa dibedakan dari ludah. Ludah (saliva) akan membentuk gelembung jernih di bagian atas cairan dalam penampung sputum, sedang pada sputum hal ini jarang terjadi kecuali pada edema pulmonal. Aroma sputum yang berbau menandakan adanya infeksi anaerob (misal abses paru). (Stark, 1990)

Stridor
Merupakan suara napas yang mendengkur secara teratur, terjadi karena penyumbatan daerah laring. Stridor dapat berupa inspiratoar dan ekspiratoar. Kebanyakan pada inspiratoar karena tumor, inflamasi atau benda asing di trakea. (Rumende, 2007)

Wheezing
Wheezing adalah yang bernada tinggi yang terjadi akibat aliran udara yang melalui saluran napas yang sempit (Rumende, 2007:40).

Mengenai mengi (wheezing) merupakan suara kontinyu yang dihasilkan jika dinding napas mengalami obstruksi sebagian (analog dengan musik tiup). Terdapat mengi monofonik dan mengi polifonik. Mengi monofonik (analog dengan suara dari satu alat musik) menunjukkan bahwa saluran napas obstruksi tak bervariasi ukuran (caliber)nya berarti suatu penyempitan local (misal pada paru atau stenosis bronkus atau trakea). Suara ini terbaik atau hanya terdengar pada tempat penyempitan saja. Mengi polifonik (lebih umum), analog dengan beberapa nada yang dimainkan secara berbarengan, dimana mengi hampir selalu terdengar pada kedua sisi (bilateral). Hal ini menunjukkan suatu penyempitan saluran napas yang umum, terutama terjadi pada bronchitis obstruktif, emfisema atau asma. (Stark, 1990:32)

Pada mengi terdapat dua jenis mengi mengenai timbulnya suara mengi berdasarkan letak obstruksinya yaitu: (1)wheezing pada obstruksi saluran napas intrathorakal, dan (2)wheezing pada penyempitan ekstrathorakal.
Mengi yang terjadi akibat obstruksi saluran napas intrathorakal terutama pada ekspirasi karena saluran napas, sesuai dengan perubahan intrathorakal , cenderung melebar pada inspirasi dan menyempit pada ekspirasi (Stark, 1990). Peningkatan resistensi intrathorakal biasanya terjadi akibat penyempitan atau penyumbatan bronkus karena tekanan dari luar, kontraksi otot bronkus, penebalan lapisan mukus, atau sumbatan lumen oleh mucus, hal ini benyak terjadi pada asma atau bronchitis kronis (Lang, 2007:76).

Obstruksi intrathorakal terutama mengganggu proses ekspirasi karena saat inspirasi tekanan intrathorakal menurun sehingga melebarkan jalan pernapasan. Perbandingan waktu ekspirasi dan inspirasi akan meningkat. Ekspirasi yang terhambat akan melebarkan duktulus alveolus (emfisema sentrilobular) menurunkan elastisitas paru (peningkatan komplians), dan bagian tengah pernapasan akan terdorong kearah inspirasi (barrel chest). Hal ini meningkatkan kapasitas residu fungsional dan dibutuhkan tekanan intrathorakal untuk melakukan ekspirasi karena komplians dan resistensi meningkat. Akibatnya, terjadi penekanan bronkiolus sehingga tekanan jalan napas semakin meningkat. Obstruksi akan menurunkan kapasitas pernapasan maksimal (V max) dan FEV1 (Lang, 2007:76). Kejadian ini penting dimengerti pada penderita (misal) asma karena pasien dengan penyakit asma ketika asma kambuh, pasien akan gugup karena merasa sesak napas dan makin berusaha inspirasi sebanyak-banyaknya, oleh karena itu bagi dokter atau perawat harus bisa menenangkan terlebih dahulu kejiwaan pasien, karena ketika gugup dan inspirasi kuat makin memperburuk kondisi mereka.
Jika mengi yang terdengar pada saat inspirasi menunjukkan adanya penyempitan saluran napas ekstrathorakal, misal pada trakea bagian atas atau laring (Stark, 1990:32). Peningkatan resistensi ekstrathorakal, misalnya pada kelumpuhan pita suara, edema glotis, dan penekanan trakea dari luar (tumor/struma). Pada trakeomalasia, dinding trakea melunak dan mengalami kolaps saat inspirasi. (Lang, 2007:76)

Akibat penyakit paru obstruktif adalah ventilasi menurun. Jika terjadi penyumbatan ekstrathorakal, yang terutama dipengaruhi adalah proses inspirasi (stridor inspirasi) karena pada saat ekspirasi tekanan dilumen prastenosis meningkat sehingga melebarkan bagian yang menyempit. (Lang, 2007:76)

Tapi jika pada keadaan berat dapat terdengar baik pada inspirasi dan ekspirasi. Wheezing digambarkan sebagai bunyi yang mendesir akibat adanya secret pada saluran napas atas. Wheezing yang timbul pada saat melakukan aktivitas merupakan gejala yang sering didapatkan pada pasien asma dan PPOK. Pada asma, wheezing menyebabkan pasien terbangun dari tidur pada malam hari sedangkan wheezing yang timbul pada pagi hari didapatkan pada PPOK (Rumende, 2007:40).

One Comment leave one →
  1. tero permalink
    Februari 16, 2010 2:43 pm

    slm knl ja,dr q anak smk yg suka nongkrong
    no hp:087817238138

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: