Skip to content

Sesak Napas saat Melakukan Aktivitas

Oktober 16, 2009

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas kasus seorang wanita usia 50 tahun datang ke UGD dengan keluhan sesak napas terus-menerus, sesak makin berat bila penderita tidur telentang dan berkurang dengan tidur posisi setengah duduk. Penderita juga mengeluh batuk disertai dahak encer dan jantung terasa berdebar-debar. Sebelumnya, bila mencuci baju atau menimba air sumur mengeluh sesak napas. Saat dirumah, lebih suka tidur dengan diganjal 2 bantal. Pada pemeriksaan didapatkan tanda kongestif dan pembesaran jantung. Dokter menjelaskan pada keluarganya bahwa penderita terkena penyakit jantung karena kegagalan pemompaan jantung. Oleh dokter, penderita diberi terapi oksigen dan obat yang bisa menyebabkan kencingnya banyak.
Melihat hasil pemeriksaan, penulis cenderung membuat hipotesis bahwa si penderita mengalami gagal jantung. Hal ini dilihat dari gejala yang ada, penderita mengalami sesak napas setelah beraktivitas dan makin dirasakan berat jika dalam posisi berbaring. Secara fisiologis, jantung memompa darah ke seluruh tubuh pada semua organ. Ketika tubuh beraktivitas, otot skelet yang bekerja sehingga sel otot butuh oksigen berlebih. Jantung makin bekerja keras untuk memompa darah, tapi karena pada pemeriksaan terdapat bendungan (kongestif) sehingga aliran darah tidak lancar, hal ini berakibat pula pada kesulitan dalam pengambilan oksigen di paru. Penderita mengalami sesak napas (dispnea) yang merupakan manifestasi paling umum dari gagal jantung (Price, 1995). Dispnea yang bisa timbul dengan segera dan kadang cukup berat, Karena kegagalan jantung dalam memompa darah yang cukup, sehingga terjadi iskemia jaringan dan menimbulkan sensasi “air hunger” ditambah kelelahan otot yang luar biasa sebagai akibat dari iskemia otot sehingga membatasi kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas fisik (Guyton, 2008). Dan gejala tersebut terjadi pada si penderita. Sesak napas disebabkan oleh peningkatan kerja pernapasan akibat kongesti vaskular paru-paru yang mengurangi kelenturan paru-paru. Tahanan aliran udara juga menimbulkan dispnea. Seperti juga spektrum kongesti paru-paru yang berkisar dari kongesti vena paru-paru sampai edema interstisial dan akhirnya ke edema alveolar, maka dispnea berkembang secara progesif. Dispnea saat beraktivitas menunjukkan awal dari gagal jantung kiri. Ortopnea (dispnea pada posisi berbaring) terutama disebabkan oleh redistribusi aliran darah dari bagian-bagian tubuh yang di bawah ke arah sirkulasi sentral (Price, 1995). Yang akhirnya penderita lebih suka berbaring dengan menggunakan 2 bantal. Penderita juga mengeluh batuk disertai dahak encer yang juga terjadi karena kongesti dari paru-paru.
Pada pemeriksaan terdapat pembesaran jantung. Hal ini disebabkan jantung berupaya keras untuk memompakan seluruh darah dengan membuat kompensasi berupa hipertrofi ventrikel sebagai upaya untuk meningkatkan kontraksi ventrikel. Hipertrofi meningkatkan jumlah sarkomer dalam sel-sel miokardium; tergantung dari jenis beban hemodinamik yang mengakibatkan gagal jantung, sarkomer dapat bertambah secara parallel atau serial. Suatu beban tekanan (misal: akibat stenosis aorta) akan disertai pertambahan tebal dinding tanpa menambah ukuran ruang dalam (hipertrofi konsentris). Respon miokardium terhadap beban volume (karena regurgitasi aorta) ditandai dengan dilatasi dan bertambahnya tebal dinding (hipertrofi eksentris). Kombinasi ini diduga akibat dari bertambahnya jumlah sarkomer yang tersusun secara serial. Awalnya respon ini menguntungkan, namun pada akhirnya mekanisme ini menimbulkan berbagai gejala, meningkatkan kerja jantung, dan memperburuk tingkat gagal jantung. Hipertrofi akan meningkatkan kebutuhan miokardium akan oksigen (MVO₂). Jika peningkatan MVO₂ tidak dapat dipenuhi dengan peningkatan suplai yang akhirnya menimbulkan gagal jantung berkelanjutan. Respon kompensatorik utama lain yang ikut berpengaruh adalah peningkatan aktivitas adenergik simpatis dan aktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron. Pengaruh aktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron menyebabkan retensi natrium dan air oleh ginjal, menigkatkan volume ventrikel dan regangan serabut. Peningkatan beban awal ini akan menambah kontraktilitas miokardium sesuai dengan hukum starling. Penurunan curah jantung pada gagal jantung akan memulai serangkaian peristiwa berikut: (1) penurunan aliran darah dan akhirnya laju filtrasi glomerulus, (2) pelepasan renin dari apparatus jukstaglomerulus, (3) interaksi renin dengan angiotensinogen dalam darah untuk menghasilkan angiotensin I, (4) konversi angiotensin I menjadi angiotensin II, (5) perangsangan sekresi aldosteron dari kelenjar adrenal, dan (6) retensi natrium dan air pada tubulus distal dan duktus pengumpul. Angiotensin II juga menghasilkan efek vasokontriksi yang ikut meningkatkan tekanan darah. Retensi cairan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kekuatan kontraktilitas. Yang pada akhirnya mengakibatkan bendungan paru-paru dan vena sistemik, dan edema. Vasokontriksi arteri dan redistribusi aliran darah mengganggu perfusi jaringan pada anyaman vascular yang terkena, dan menimbulkan tanda serta gejala seperti berkurangnya jumlah kemih yang dikeluarkan, dan kelemahan tubuh (Price, 1995). Sehingga pada kasus, dokter memberikan obat yang bisa menyebabkan penderita mengeluarkan urin dalam jumlah banyak. Obat seperti itu masuk dalam golongan diuretik yang menambah pembentukan air kemih dan membuang natrium dan air dari tubuh melalui ginjal. Sedangkan pada terapi oksigen, penderita diberi kandungan oksigen yang tinggi yang berguna pengiriman oksigen ke jaringan, sehingga hal ini bermanfaat bagi penderita. Walau demikian, manfaatnya jauh dari yang diharapkan karena masalah bukanlah oksigenasi darah yang tidak adekuat tapi transpor darah yang telah dioksigenasi. (Guyton, 2008)

3 Komentar leave one →
  1. Oktober 18, 2009 9:54 am

    i love you

  2. Oktober 21, 2009 1:17 pm

    keren yank….

    target akhir taun 1000 ya…
    tak bantu tar…

  3. Oktober 21, 2009 4:10 pm

    hai..
    sukses buat asdos anatomonya ya???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: