Skip to content

Nyeri Tengkuk

Oktober 10, 2009

Pada kali ini terdapat suatu kasus seorang pria berusia 45 tahun, datang ke poli penyakit dalam dengan keluhan leher bagian belakang terasa pegal dan sakit kepala. Hasil anamnesis, 2 tahun terakhir tekanan darah kadang-kadang tinggi, punya riwayat ayah meninggal karena penyakit jantung, selama ini kontrol ke puskesmas tapi tidak rutin, diberi tablet warna putih dg dosis 0,5 tablet pada pagi hari. Penderita juga dianjurkan untuk diet rendah garam dan memperbaiki pola hidup. Pemeriksaan vital sign, tekanan darah 160/95 mmHg.
Jantung merupakan organ yang terletak di mediastinum inferior medial yang dilapisi pericardium. Jantung memiliki bagian kanan dan kiri yang masing-masing memiliki ruang atas (atrium) dan bawah (ventrikel). Jantung mempunyai tugas untuk memompa darah ke seluruh tubuh dengan membawa oksigen untuk ditukar dengan karbondioksida di semua jaringan. Oksigen sendiri digunakan sebagai sumber energi dalam tubuh. Sehingga apabila sirkulasi darah terganggu menyebabkan terjadinya kelainan dalam sistem tubuh.
Berikut ini penulis akan membahas mekanisme gejala tersebut.Tekanan darah tinggi atau disebut juga hipertensi didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik dan/atau diastolik yang tidak normal. Batas yang tepat dari kelainan ini tidak pasti. Nilai yang dapat diterima berbeda sesuai dengan usia dan jenis kelamin. Tekanan darah naik sejalan dengan bertambahnya usia dan lebih banyak perempuan daripada laki-laki yang terkena. Hipertensi kebanyakan kasus juga terjadi karena genetik (hipertensi essensial). Umumnya, sistolik berkisar dari 140-160 mmHg dan diastolik antara 90-95 mmHg dianggap sebagai batas hipertensi. Diagnosis hipertensi sudah jelas dimana tekanan darah lebih dari 160/95. Nilai-nilai ini sesuai dengan definisi konseptual hipertensi yaitu peningkatan tekanan darah yang berkaitan dengan mortalitas kardiovaskular lebih dari 50%. (Carliton, 1995; Sibernagle, 2007)
Perjalanan hipertensi sangat perlahan, sehingga tak menunjukkan gejala selama bertahun-tahun. Masa laten ini menyelubungi perkembangan penyakit sampai terjadi kerusakan organ yang bermakna. Bila terjadi gejala yang non spesifik misalnya sakit kepala atau pusing. (Carliton, 1995)
Peningkatan tekanan darah sistemik meningkatkan resistensi terhadap pemompaan darah dari ventrikel kiri; akibatnya kerja jantung bertambah. Sebagai akibatnya, terjadi hipertrofi ventrikel untuk meningkatkan kontraksi. Keadaan hipertrofi ini menyebabkan bertambahnya kebutuhan metabolik miokardium, tetapi kemampuan jantung untuk memenuhi kebutuhan ini berkurang. Hal ini karena hipertrofi menyebabkan miokardium kaku sehingga tegangan dinding bertambah sekaligus mengurangi pengisian diastol dan isi sekuncup (stroke volume). Apabila bersifat kronis memicu terjadinya aterosklerosis dan miokardium hipertrofik mudah mengalami cedera iskemik. Bila proses aterosklerosis berlanjut maka suplai oksigen miokardium berkurang. Kebutuhan miokardium akan oksigen yang meningkat akibat hipertrofi ventrikel dan peningkatan beban kerja jantung, yang akhirnya menimbulkan gagal jantung kongestif, Infark Miokard dan/atau aritmia (Kumar, 2007; Carliton, 1995 ). Sehingga apabila terjadi gangguan pada sirkulasi darah karena aritmia atau pemompaan yang buruk menyebabkan transpor oksigen ke seluruh tubuh berkurang. Hal ini bisa menyebabkan pusing apabila otak kekurangan darah.
Didalam tubuh sendiri memiliki mekanisme yang kuat dalam untuk mengatur tekanan arteri selama berminggu-minggu. Hal ini berkaitan dengan homeostasis volume cairan tubuh, yang ditentukan oleh keseimbangan antara asupan dan keluaran cairan yang dilakukan oleh saraf, hormon, dan ginjal sebagai pengatur ekskresi garam dan air. Bila tubuh banyak mengandung cairan ekstrasel, volume darah akan meningkat dan tekanan arteri akan meningkat, menyebabkan ginjal mengekskresi kelebihan cairan ekstrasel untuk kembali ke tekanan normal. Hal ini dimulai dengan (1) kenaikan volume cairan ekstrasel, (2)meningkatkan volume darah, (3)meningkatkan tekanan pengisian sirkulasi rata-rata, yang (4) meningkatkan aliran vena ke jantung, yang (5)meningkatkan curah jantung, lalu (autoregulasi vaskuler) (6)meningkatkan arteri. Tapi ekskresi garam tidak semudah mengekskresikan air. Akibat penumpukan garam, secara tidak langsung meningkatkan volume cairan ekstrasel dengan cara: (1) osmolalitas cairan meningkat, merangsang pusat haus di otak untuk minum banyak air sehingga konsentrasi garam ekstrasel normal (2) osmolalitas cairan meningkat, merangsang hipotalamus-hipofisis menyekresikan ADH sehingga ginjal mereabsorbsi air dari tubulus ginjal. (Guyton, 2008)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: