Lanjut ke konten

Obat Anti Bakteri Penghambat Sintesis Asam Nukleat

Mei 29, 2010

Sintesis Asam Nukleat pada Bakteri

Pteridin + Asam p-aminobenzoat (dihidropteroat sintetase)—> Asam dihidropteroat —> Asam dihidrofolat —(dihirofolat reduktase)—> Asam tetrahidrofolat —> purin, pirimidin —> DNA terrelaksasi —(DNA girase)—> DNA superkoil

Antibiotik

Sulfonamid Trimetoprim 5-Nitroimidazol Kuinolon Rifampisin
Sulfadiazin

Sulfametoksazol

Metronidazol

Tinidazol

Asam Nalidiksat

Norfloksasin

Siprofloksasin

Sulfonamid merupakan obat pertama yang efektif bagi penyakit sistemik, penggunaan tunggalnya (dahulu) bagi infeksi saluran kemih akibat bakteri gram (-) dan gram (+). Tapi, peranan sulfonamid mulai menurun akibat banyak bakteri yang resisten dan sudah banyak ditemukan antibiotik yang lebih sedikit  efek sampingnya. Efek samping sulfonamid seperti ruam (sering), gagal ginjal dan diskrasia darah, agranulositosis, anemia aplastik, anemia hemolitik (terutama pada pasien dengan defisiensi G6PD), (kadang) demam

Sulfonamid, bersifat bakteriostatik, merupakan analog struktural asam p-amino benzoat yang penting bagi sintesis asam folat pada bakteri, sehingga sulfonamid secara kompetitif menghambat enzim dihidropteroat sintetase bakteri dan mencegah produksi folat yang dibutuhkan untuk sintesis DNA.

  1. Sulfadiazin diabsorbsi baik secara oral.
  2. Sulfadiazin dalam kombinasi dengan pirimetamin digunakan pada infeksi toxoplasma gondii

Trimetoprim bekerja dengan menghambat dihidrofolat reduktase, bersifat toksik selektif karena afinitasnya 5000x lebih besar daripada afinitas terhadap enzim manusia. Banyak digunakan pada infeksi saluran kemih, kadang digunakan pada infeksi saluran pernapasan, tetapi mempunyai aktivitas yang relatif buruk untuk melawan Streptococcus pneumonia dan Streptococcus pyogenes

Trimetoprim diabsorbsi dengan baik secara oral dan efektif . Pemakaian  Kotrimoksazol (kombinasi antara trimetoprim dan sulfametoksazol) saat ini terbatas untuk mengobati pasien pneumonia Pneumocystis carinii dan toxoplasmosis karena efek samping hampir sama dengan Sulfonamid

5-Nitroimidazol, berspektrum luas dan aktif melawan bakteri anaerob dan beberapa protozoa. Obat berdifusi ke dalam organisme dimana gugus nitro dikurangi sehingga dapat menghambat dan/atau merusak sintesis DNA.

  1. Metronidazol, diabsorbsi baik secara oral dan dapat diberikan secara intravena. Aktif melawan sebagian besar bakteri anaerob, termasuk Bacteroides. Merupakan obat pilihan pada infeksi protozoa (Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, Trichomonas vaginalis). Efek samping meliputi gangguan gastrointestinal
  2. Tinidazol mempunyai durasi kerja lebih panjang. Berguna pada giardiasis (dimana metronidazol dosis tinggi  mungkin tidak ditoleransi dengan baik)

Kuinolon, merupakan bakterisida karena menghambat lepasnya untai DNA yang terbuka pada proses superkoil dengan menghambat DNA girase (enzim yang menekan DNA bakteri menjadi superkoil). Untuk memasukkan DNA untai ganda yang panjang kedalam sel bakteri, DNA diatur dalam loop (DNA terrelaksasi) yang kemudian diperpendek oleh proses superkoil. Sel eukariotik tidak mengandung DNA girase. Sifat penting dari Kuinolon adalah penetrasinya yang baik ke dalam jaringan dan sel (bandingkan dengan Penisilin), efektivitasnya bila diberikan secara oral, dan toksisitasnya relatif rendah

  1. Asam Nalidiksat adalah kuinolon pertama yang ditemukan memiliki aktivitas antibakteri, tapi Asam Nalidiksat tidak mencapai kadar antibakteri sistemik dan sampai saat ini hanya digunakan pada infeksi saluran kemih.
  2. Norfloksasin tidak mempunya aktivitas sistemik, terkonsentrasi dalam urin dan merupakan obat lini kedua pada infeksi saluran kemih
  3. Siprofloksasin merupakan agen antibakteri spektrum luas. Diabsorbsi baik secara oral dan dapat secara intravena. Dieliminasi oleh ginjal dan (sebagian besar) dalamm bentuk yang tidak berubah. Siprofloksasin mempunyai substituent 6-fluoro yang sangat memperkuat potensi antibakteri melawan bakteri gram (+) dan terutama bakteri gram (-) (E. coli, P.aeruginosa, Salmonella, Campylobacter). Efek samping jarang terjadi, meliputi mual, muntah, ruam, pusing, dan sakit kepala. Konvulsi bisa terjadi karena kuinolon merupakan antagonis asam γ-aminobutirat (GABA).

Rifampisin menghalangi transkripsi RNA pada banyak bakteri dengan menghambat polymerase RNA yang tergantung DNA. Resistensi terhadap rifampisin cepat terjadi, tetapi dengan kombinasi dengan obat lain, penting untuk terapi tuberculosis.

Artikel Terkait Diatas

Obat Anti Bakteri Penghambat Sintesis Dinding Sel (kategori Farmakologi)

Referensi

Neal M. J., 2006, At a Glance Farmakologi Medis Edisi Kelima, Jakarta: Erlangga

About these ads
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: