Demam disertai Menggigil
Kasus kali ini, Tn. M, 35 tahun, datang ke dokter umum dengan keluhan demam disertai menggigil hilang timbul sejak 1 minggu yang lalu. Badan terasa lesu dan nyeri otot. Demam biasanya dapat turun sendiri disertai keringat banyak. Dua minggu yang lalu, Tn. M baru pulang dari Nusa tenggara Barat dan tinggal selama sebulan. Pemeriksaan fisik didapatkan: keadaan umum lemah dan pucat, mata kuning, teraba pembesaran hati dan limpa. Pemeriksaan penunjang sediaan apus darah didapatkan bentuk eritrosit yang abnormal.
Keluhan penyakit kali ini didapat Tn. M berupa demam disertai menggigil hilang timbul sejak 1 minggu yang lalu. Penulis masih menduga adanya kemungkinan demam yang diakibatkan infeksi virus, bakteri, parasit; penyakitnya mungkin demam dengue, demam berdarah dengue (DBD), malaria, demam tifoid, appendicitis, pneumonia, abses, tuberculosis, infeksi saluran kencing, hepatitis. Hepatitis mungkin bisa disingkirkan karena keluhan jarang didapat demam, bahkan sampai demam disertai menggigil.
Badan terasa lesu dan nyeri otot, biasanya digolongkan influenza. Tapi kasus pada pasien diatas tidak ditemukan sakit kepala, batuk non produktif, pilek, kadang sakit saat menelan, suara serak. Adanya nyeri otot kemungkinan menjurus demam dengue, DBD, malaria, demam tifoid (diagnosis penyakit lain bisa disingkirkan). Selanjutnya perlu dilakukan anamnesis yang akhirnya bisa ditentukan diagnosis pasti pada kasus Tn. M.
Pada anamnesis didapat, Tn. M, 2 minggu yang lalu pulang dari Nusa Tenggara Barat dan telah tinggal selama sebulan. Hal ini mengarahkan hipotesis penulis tertuju ke malaria. Insidensi malaria masih banyak ditemukan didaerah-daerah Indonesia bagian timur (Papua, Maluku, NTB, NTT, Sulawesi), dan Kalimantan.
Keadaan umum lemah dan pucat, mata kuning, teraba pembesaran hati dan limpa. Tanda-tanda ini bisa ditemukan pada demam dengue, DBD, malaria, demam tifoid. Hipotesis malaria masih bisa dipertahankan.
Malaria merupakan penyakit infeksi parasit yang disebakan oleh plasmodium yang menyerang eritrosit yang ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual dalam darah.
Infeksi malaria memberi gejala berupa demam, menggigil, anemia dan splenomegali selain itu pada hati. Tanda ini yang dialami oleh Tn. M. Tanda lemah, pucat merupakan anemia akibat serangan parasit plasmodium pada darah (lihat bawah). Adanya hepatomegali akibat infeksi plasmodium disertai perubahan parenkim, dan splenomegali sebagai kompensasi akibat kerja berlebih lien sebagai RES (Reticulo Endothelial System). Selain itu pada sediaan apus darah didapatkan bentuk eritrosit abnormal, merupakan hasil dari infeksi plasmodium lebih lanjut (lihat bawah).
Anemia, gejala yang sering timbul, disebabkan oleh beberapa faktor:1) penghancuran eritrosit berparasit atau eritrosit tidak berparasit; 2) reduced survival time (eritrosit normal yang tidak berparasit tidak dapat hidup lama); 3) diseritropoiesis (gangguan eritrosit dalam sumsum tulang, pengeluaran retikulosit terhambat). Jenis anemia pada malaria adalah hemolitik, normokrom dan normositik, hipokrom. Selain anemia, bisa ditemukan trombositopenia dan leukopenia
Splenomegali, juga sering dijumpai, teraba setelah 3 hari dari serangan akut, bengkak, hitam, nyeri, hiperemis, berperan dalam RES (pada penelitian limpa hewan, limpa menghancurkan eritrosit yang terinfeksi dengan perubahan metabolism, antigenic, dan rheological dari eritrosit yang terinfeksi).
Diagnosis pasti malaria bisa ditegakkan dengan:
- Anamnesis. Mengenai keluhan utama: periode dingin, periode panas, dan periode berkeringat (trias malaria); apakah sering disertai sakit kepala, mual dan atau muntah, diare dan nyeri otot atau pegal; pakah pernah riwayat berpergian dan bermalam ke daerah malaria; apakah tinggal di daerah endemis malaria; apakah pernah menderita malaria sebelumnya; apakah pernah mendapat transfusi darah
- Pemeriksaan fisik. Ditemukan demam (37,5-40 °C), konjungtiva palpebra, splenomegali dan hepatomegali
Pemeriksaan darah tepi (tetes tebal dan/atau hapusan tipis). Untuk menentukan jenis parasit dan nilai ambang atau kepadatan parasit (terutama penderita rawat inap) dinyatakan dalam:
Tetes tebal.
- (-) SD tidak di temukan parasit dalam 100 LP;
- (+) SD ditemukan 1-10 parasit/100 LP;
- (++) SD ditemukan 11-100 parasit/100 LP;
- (+++) SD ditemukan 1-10 parasit/1 LP;
- (++++) SD ditemukan >10 parasit/1 LP
Hapusan tipis. Preparat hapusan tipis di utamakan untuk melihat jenis spesiesnya (P. vivax atau P. falcifarum atau P. malariae atau P. ovale)
Tes diagnosis cepat
- Antigen HRP-2 (histidine rich protein-2) yang di produksi oleh trofozoit dan gametosit muda dari P. falciparum, di kenal di pasaran sebagai PF test, ICT test, Paracheck, dll
- Antigen enzim parasit lactate dehidrogenase (p-LDH) yang di produksi oleh parasit bentuk aseksual / seksual dari 4 spesies. Dipasaran dikenal sebagai test OPTIMAL
- Mendeteksi antigen HRP-2 dari P. falcifarum dan antigen “pan-malarial” dari 4 spesies plasmodium
Referensi
Sudoyo A. W. dkk, 2007. Buku Ajar – Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV. Jakarta : EGC
Sutanto Inge dkk., 2008. Buku Ajar – Parasitologi Kedokteran Edisi 4. Jakarta: Balai Penerbit FKUI
Artikel Terkait Kasus Diatas
Demam – mekanisme (kategori Fisiologi)
Menggigil – mekanisme (kategori Fisiologi)
Tingkat Kesadaran (kategori Fisiologi)
Malaria (kategori Tropik Infeksi)
Malaria – komplikasi (kategori Tropik Infeksi)
Obat Anti Malaria (kategori Tropik Infeksi)
Malaria pada Kehamilan (kategori Penyakit Terkait Kehamilan)



















