Lanjut ke konten

Nyeri Abdomen

Februari 28, 2010

Definisi Nyeri Abdomen

Nyeri dirasakan di abdomen dapat berasal dari dalam abdomen, dinding abdomen, atau merupakan nyeri alih dari suatu sumber di luar abdomen, pada tulang belakang atau thorak. (David Mattingly dan Charles Seward, 1996)

Sifat Nyeri Abdomen

  • Nyeri Alih

Terjadi jika suatu segmen persarafan melayani >1 daerah, misal, persarafan diafragma berasal dari regio leher C 3-5 pindah ke bawah pada masa embrional, sehingga rangsangan pada diafragma oleh perdarahan/peradangan akan dirasakan dibahu.

  • Nyeri Radiasi

Nyeri menyebar dalam sistem/jalur anatomi yang sama, misal, kolik ureter atau kolik pielum ginjal, biasanya dirasakan sampai ke alat kelamin luar (labium mayor (wanita) atau testis). Kadang sukar dibedakan dari nyeri alih.

  • Nyeri Proyeksi

Disebabkan rangsangan saraf sensorik akibat cedera/peradangan saraf.

  • Nyeri Kontinyu

Akibat rangsangan pada peritoneum parietal yang terus menerus, misal, pada reaksi radang. Pada pemeriksaan penderita peritonitis, ditemukan nyeri setempat. Otot dinding perut menunjukkan defans muskuler secara refleks melindungi bagian meradang dan menghindari gerakan atau tekanan setempat.

  • Nyeri Kolik

Nyeri visceral akibat spasme otot polos berongga dan biasanya disebabkan hambatan pasase dalam organ tersebut (obstruksi usus, batu ureter, batu empedu, peningkatan tekanan intraluminer). Nyeri timbul karena hipoksia yang dialami jaringan dinding saluran. Karena kontraksi ini berjeda maka kolik dirasakan hilang timbul. Fase awal gangguan perdarahan dinding usus juga berupa nyeri kolik. Biasanya disertai perasaan mual bahkan muntah. Saat serangan, penderita sangat gelisah, kadang berguling-guling ditempat tidur atau jalan. Trias kolik, tanda khas yang terdiri dari serangan nyeri perut yang kumatan disertai mual atau muntah yang disertai gerak paksa.

  • Nyeri Iskemik

Nyeri yang hebat, menetap, dan tidak menyurut. Merupakan tanda jaringan terancam nekrosis. Lebih lanjut, tampak tanda intoksikasi umum seperti takikardia, merosotnya keadaan umum, dan syok karena resorbsi toksin dari jaringan nekrosis. (R. Sjamsuhidajat dan Wim de Jong, 1997)

Macam Nyeri Abdomen

  • Nyeri Viseral (Nyeri Sentral)

Terjadi bila terdapat rangsangan pada organ/struktur dalam rongga perut. Peritoneum viseral yang menyelimuti organ perut dipersarafi oleh sistem saraf autonom dan tidak peka terhadap rabaan atau pemotongan. Sehingga,  sayatan/jahitan pada usus dapat dilakukan tanpa dirasakan pasien. Akan tetapi, bila dilakukan tarikan/regangan organ atau kontraksi otot berlebih menyebabkan iskemia (misal, kolik atau radang, akan timbul nyeri). Nyeri ini tidak dapat ditunjukkan secara tepat letak nyerinya.

Pola khas dengan persarafan embrional organ yang terlibat. Saluran cerna yang berasal dari usus depan (foregut) yaitu lambung, duodenum, sistem hepatobilier dan pankreas menyebabkan nyeri di ulu hati (epigastrium). Saluran cerna usus tengah (midgut) yaitu usus halus sampai pertengahan kolon transversum menyebabkan nyeri disekitar umbilikus. Saluran cerna bagian usus belakang (hindgut) yaitu pertengahan kolon sampai kolon sigmoid menimbulkan nyeri di perut bagian bawah. Demikian juga nyeri dari buli-buli dan rectosigmoid. Karena tidak disertai rangsang peritoneum, nyeri ini tidak dipengaruhi oleh gerakan, sehingga penderita biasanya dapat aktif bergerak.

  • Nyeri Somatik

Terjadi karena rangsangan pada bagian yang dipersarafi oleh saraf tepi, misal, regangan peritoneum parietal dan luka pada dinding perut. Nyeri dirasakan seperti ditusuk/disayat dan nyeri dapat ditunjukkan secara tepat letaknya dengan jari, biasanya dekat dengan organ sumber nyeri. Rangsang yang menimbulkan nyeri ini dapat berupa rabaan, tekanan, rangsang kimiawi atau proses radang. Gesekan antara visera yang meradang akan menimbulkan rangsangan peritoneum dan menyebabkan nyeri. Peradangannya sendiri maupun gesekan antara kedua peritoneum dapat menyebabkan perubahan intensitas nyeri. Gesekan inilah yang menjelaskan nyeri kontralateral pada appendicitis akut. Setiap gerakan penderita, baik berupa gerak tubuh maupun gerak napas yang dalam atau batuk, juga akan menambah rasa nyeri. (R. Sjamsuhidajat dan Wim de Jong, 1997)

Nyeri somatik

  1. Abdomen kanan atas: kandung empedu, hati, duodenum, pankreas, kolon, paru, miokard
  2. Epigastrium: lambung, pankreas, duodenum, paru, kolon.
  3. Abdomen kiri atas: limpa, kolon, ginjal, pankreas, paru.
  4. Abdomen kanan bawah: apendiks, adneksa, ureter, sekum, ileum
  5. Abdomen kiri bawah: kolon, adneksa, ureter
  6. Suprapubik: buli-buli, uterus, usus halus.
  7. Periumbilikus: usus halus
  8. Pinggang /punggung: pankreas, aorta ginjal

Mekanisme Nyeri

Reseptor nyeri dan stimulasinya.

Kapasitas jaringan menimbulkan nyeri apabila mendapat rangsangan yang mengganggu, bergantung pada keberadaan nosiseptor (saraf aferen primer untuk menyalurkan dan menerima rangsangan nyeri). Ujung-ujung saraf bebas nosireseptor berfungsi sebagai reseptor yang peka terhadap rangsangan kimiawi yang menimbulkan nyeri. Distribusi nosireseptor bervariasi di seluruh tubuh, dengan jumlah terbesar terdapat di kulit. Nosiseptor terletak di jaringan kutis , otot rangka dan sendi. Reseptor nyeri visera tidak terdapat di parenkim organ internal itu sendiri, tetapi di permukaan peritoneum, membran pleura, durameter dan pembuluh darah.

Saraf  perifer terdiri dari akson toga tipe neuron yang berlainan: neuron aferen atau neuron sensorik primer, neuron simpatik dan neuron pascaganglion simpatis. Serat pascaganglion simpatik dan motorik adalah serat aferen (membawa impuls dari medula spinalis ke jaringan organ efektor). Badan sel dari neuron aferen primer terletak di akral dorsal N. Spinalis. Setelah keluar dari badan selnya di ganglion akral dorsal (GAD), akson saraf aferen primer terbagi mnejadi dua prosesus: satu masuk ke kornu dorsalis medula spinalis, dan yang lain mempersarafi jaringan. Serat serat aferen primer diklasifikasikan berdasarkan ukuran, derajat mielinisasi, dan kecepatan penghantaran. Serat aferen A-alfa dan A-beta  berukuran paling besar dan bermielin serta memiliki kecepatan hantaran tertinggi. Serta serat ini berespon terhadap sentuhan, tekanan, dan sensasi kinestetik, namun serat-serat ini tidak berespon terhadap rangsangan yang mengganggu sehingga tidak dapat diklasifikasikan sebagai nosiseptor. Sebaliknya serat serat aferen primer A-delta yang bergaris tengah kecil dan sedikit bermielin serta yang bergaris tengah kecil dan sedikit bermielin serta serat aferen primer C. (Price and Wilson, 2001)

About these ads
2 Komentar leave one →
  1. Maret 31, 2010 6:14 am

    hhe
    makasii yee

    ternyata yang kutemukan adalah blogmu!
    ni intannya anes !

    • panmedical permalink*
      April 3, 2010 1:56 pm

      oh Ya sama2…Intan… semoga mw selalu ngunjungi blog ini ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: